Selamat datang di dunia Phantasmagoria!
Ini bukan Phantasmagoria-nya Lewis Carrol, tapi mungkin; ya, sangat terinspirasi dari pernyataan Walter Benjamin tentangnya, saat ia tertegun meilhat citraan bayang-bayang dari pantulan kaca yang berbaur dengan kenyataan seperti itu di Paris. Phantasmagoria memanipulasi objektivitas visual dan membuatnya membaur dengan citraan yang didukung penuh oleh kemampuan berfantasi.
Mari sejenak bermain-main dengan delusi, jangan ditolak, ikuti dan nikmati saja. Biasanya delusi datang pada orang yang memiliki paranoid akut, memutus relasi antara kenyataan dan fantasi, menipiskan garis batas diantara keduanya lalu mengacaukan situasi. Sama seperti aku, terlalu takut dengan ketakutan, hingga akhirnya terjerembab makin dalam pada lumpur hisap yang masiv. Makin memberontak maka makin dicengkeram.
Jadi, tidak ada salahnya mencoba ikut bermain dan tetap terjaga agar tidak melarut. Tidak ada ruginya bermain peran menjadi orang lain pada dunia yang mempermainkan pikiran. Yang menghantui mimpi-mimpi yang datang sebelum tidur. Yang bisa membuat berteriak secara tidak sadar dan menyedot habis kadar serotonin pada zat di tubuh.
Satu hal yang perlu diwaspadai saat mulai memasukinya adalah, kamu harus tahu dimana kamu tengah berdiri.
Saat tahu sudah memulainya, maka harus sudah tahu akan dimana mengakhirinya.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar