Terlalu banyak melewati katak mati dan terinjak bahkan aku pun tidak lebih baik dari mereka karena aku tetap memilih menjadi batu. Tak pernah ada sesuatu pun diam tenang mengisi dalam teko yang menjadi penadah air hujan. Tetap pada sofa merah itu, pada ruang simulakrum itu, mereka hanya singgah sebentar lalu pergi cepat-cepat. Aku sering mengundang tapi juga sering mengusir.
Tak terhitung lagi saat aku bergegas melangkah meninggalkan segala sosok lewat dan basa basi.
Rasa kepercayaan yang kian tidak kudapati, dan anggapan bahwa aku telah memiliki aquarium indah padahal aku sendiri hanya menjadi batu didalamnya. Aku memilih menjadi batu.
Aku menghindari keramaian, menghindari tatapan, dan hanya sesekali keluar dari kamuflase untuk sedikit memanusiakan diriku. Atau bahkan berpura-pura menjadi manusia. Tapi tetap mereka terdengar dengan segala kasak kusuknya. Aku memilih keputusan yang orang bilang hanya opsi yang random. Jauh didalam sini, jauh di ruang itu, aku tetap memilih jadi batu. Biarlah orang memungut lalu kemudian melempar. Aku ga peduli.
Kesialan dalam hidup bukanlah saat manusia tidak mendapatkan keinginannya, melainkan ketika ia berada dititik tidak mempercayai kehidupan tersebut dan memilih jadi batu.
Si batu yang tak mempercayai orang hidup.
Minggu, 22 Mei 2016
Satu kotak coklat Julia
Rain of July
Kita ga pernah saling janji untuk mengabari, tapi
Kita tahu selalu ada tempat dekat hati, dekat jantung, dekat pembuluh yang mengedarkan rindu
Kita ga rutin saling menyapa lewat maya, tapi
Kita selalu bertemu dalam imaji
Dibawah hujan bulan Juli,
Kita selalu saling mengingat
Tentang awan bulan Juli
Tentang angin bulan Juli
Tentang wangi bulan Juli
Tentang angka 4 dan 6
Tahukah kamu,
Betapa aku sulit mengabai rindu
Aku berlari dalam mimpi,
Mengejarmu,
Menjauhimu, tapi
Seakan-akan aku hanya membuat paradoks
Rindu tapi ga juga bertemu?
Ga akan kutagih cerita yang terjeda
Seperti frasa yang tiada arti tanpa spasi.
Aku tahu kita nanti akan kembali mengobral ilusi,
Merenda delusi,
Menertawai kesintingan yang tak pernah basi,
Walaupun tembok ratapan itu entah jadi apa sekarang.
Aku tahu kita akan kembali berhujan dibawah langit Juli.
Kamu adalah musuh untuk kesepianku
Karena kamu selalu mengisi setiap bilik dan relung,
Lalu menjauh... Jauh.. Jauh... Hilang
Jangan lagi hilang
Kamu boleh pergi, tapi jangan lagi hilang..
***
Bogor, 22 Mei 2016
Untuk sahabat yang paling kusayangi walaupun sekian tahun ga pernah berjumpa, lupakah kamu dengan kita?
Miss you Julia!!
Kita ga pernah saling janji untuk mengabari, tapi
Kita tahu selalu ada tempat dekat hati, dekat jantung, dekat pembuluh yang mengedarkan rindu
Kita ga rutin saling menyapa lewat maya, tapi
Kita selalu bertemu dalam imaji
Dibawah hujan bulan Juli,
Kita selalu saling mengingat
Tentang awan bulan Juli
Tentang angin bulan Juli
Tentang wangi bulan Juli
Tentang angka 4 dan 6
Tahukah kamu,
Betapa aku sulit mengabai rindu
Aku berlari dalam mimpi,
Mengejarmu,
Menjauhimu, tapi
Seakan-akan aku hanya membuat paradoks
Rindu tapi ga juga bertemu?
Ga akan kutagih cerita yang terjeda
Seperti frasa yang tiada arti tanpa spasi.
Aku tahu kita nanti akan kembali mengobral ilusi,
Merenda delusi,
Menertawai kesintingan yang tak pernah basi,
Walaupun tembok ratapan itu entah jadi apa sekarang.
Aku tahu kita akan kembali berhujan dibawah langit Juli.
Kamu adalah musuh untuk kesepianku
Karena kamu selalu mengisi setiap bilik dan relung,
Lalu menjauh... Jauh.. Jauh... Hilang
Jangan lagi hilang
Kamu boleh pergi, tapi jangan lagi hilang..
***
Bogor, 22 Mei 2016
Untuk sahabat yang paling kusayangi walaupun sekian tahun ga pernah berjumpa, lupakah kamu dengan kita?
Miss you Julia!!
Sabtu, 14 Mei 2016
Botchan jadi banyak.
Soseki mengibas, mendengus lalu abai
Menyibak kertas dan menarik nafas satu-satu, dua-dua
Satu-dua satu-dua
Membalurnya dengan hitam tinta tipis-tebal-tipis-tebal
Lalu Botchan meronta dan angin gemas
Dihisap lintah kebodohan yang disadari
dan belatung ketololan yang menggerogoti
Hilang satu persatu sel otak yang paling vital
Ialah Botchan
Tapi ia pada zamannya adalah seseorang yang langka
Kini,
Soseki menjadi abu,
namun Botchan bereinkarnasi,
menjadi user disetiap aplikasi
Disetiap layar datar,
disetiap megapiksel,
disetiap gigabyte,
ia tetap dibodohi dan terbodohi.
***
Mei 14, 2016
*Botchan adalah tokoh pada salah satu novel Natsume Soseki.
Menyibak kertas dan menarik nafas satu-satu, dua-dua
Satu-dua satu-dua
Membalurnya dengan hitam tinta tipis-tebal-tipis-tebal
Lalu Botchan meronta dan angin gemas
Dihisap lintah kebodohan yang disadari
dan belatung ketololan yang menggerogoti
Hilang satu persatu sel otak yang paling vital
Ialah Botchan
Tapi ia pada zamannya adalah seseorang yang langka
Kini,
Soseki menjadi abu,
namun Botchan bereinkarnasi,
menjadi user disetiap aplikasi
Disetiap layar datar,
disetiap megapiksel,
disetiap gigabyte,
ia tetap dibodohi dan terbodohi.
***
Mei 14, 2016
*Botchan adalah tokoh pada salah satu novel Natsume Soseki.
Dipecut mimpi dini hari
Aku berkejar
Dan beton tumbuh tanpa ampun, membuat terkalang kabut
Mengapa semua serba terburu-buru, bahkan kopi hitam di atas
meja belum habis mengepul panasnya
Ditinggal seseorang yang ditinggal waktu sambil bersepatu
Poros yang kini menagih pada bumi, untuk memutarinya lebih
cepat seperti ia mengelilingi matahari
Tidak ada lagi pagi yang benar-benar dinanti
Tidak ada lagi senja yang memanja
Mereka terlonjak lalu bersepatu dalam setengah mata, dan
lagi-lagi meninggalkan kopi panas diatas jarum jam yang memburu
Membiarkannya larut dalam pekat tengah malam bahkan dini
hari
Pun dengan aku
Belum sempat kutitip pada laju pagi yang terlalu cepat
hingga tak kasat
Tentang rasa sayang ini, pada diri sendiri,
pada ibukota yang memecuti mimpi
Aku ingin meminta waktu untuk bersedih dan meratapi, walau
hanya dengan detik lampu merah
Memandangnya dalam batas marka jalan raya
Dan bertanya padanya mengapa ia pergi dan berlalu begitu
cepat.
Aku pun menangisi kepergian jati diri, sambil berdiri di atas metromini.
April 11, 2010
Karya lama yang diukir kembali.
April 11, 2010
Karya lama yang diukir kembali.
Langganan:
Postingan (Atom)