Terlalu banyak melewati katak mati dan terinjak bahkan aku pun tidak lebih baik dari mereka karena aku tetap memilih menjadi batu. Tak pernah ada sesuatu pun diam tenang mengisi dalam teko yang menjadi penadah air hujan. Tetap pada sofa merah itu, pada ruang simulakrum itu, mereka hanya singgah sebentar lalu pergi cepat-cepat. Aku sering mengundang tapi juga sering mengusir.
Tak terhitung lagi saat aku bergegas melangkah meninggalkan segala sosok lewat dan basa basi.
Rasa kepercayaan yang kian tidak kudapati, dan anggapan bahwa aku telah memiliki aquarium indah padahal aku sendiri hanya menjadi batu didalamnya. Aku memilih menjadi batu.
Aku menghindari keramaian, menghindari tatapan, dan hanya sesekali keluar dari kamuflase untuk sedikit memanusiakan diriku. Atau bahkan berpura-pura menjadi manusia. Tapi tetap mereka terdengar dengan segala kasak kusuknya. Aku memilih keputusan yang orang bilang hanya opsi yang random. Jauh didalam sini, jauh di ruang itu, aku tetap memilih jadi batu. Biarlah orang memungut lalu kemudian melempar. Aku ga peduli.
Kesialan dalam hidup bukanlah saat manusia tidak mendapatkan keinginannya, melainkan ketika ia berada dititik tidak mempercayai kehidupan tersebut dan memilih jadi batu.
Si batu yang tak mempercayai orang hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar