Aku menyadarinya begitu lama untuk beberapa juta tahun cahaya dan ketika siuman ternyata aku telah kehilangan banyak. Bahwa ternyata aku terjebak pada pusaran portal ke masa lalu dan mendapati orang lain telah melangkah jauh didepan sedangkan aku tetap jalan ditempat. Bukan hanya jalan ditempat, tapi juga terjerembab dengan cidera lutut yang parah. Mungkin masih beruntung karena kakiku masih ada ditempatnya, tapi apa gunanya jika mereka tidak dapat dipakai untuk jangka waktu yang entah kapan dapat dipakai melangkah lagi dengan normal dan bisa berlari? Ketika nanti pun cedera itu sembuh, orang-orang itu telah lama menghilang dibalik tikungan dan naik ke bis yang telah berangkat. Dan aku pun akan sendirian lagi, kembali menyublimkan paha dan pantatku dengan dinginnya besi bangku di halte dan menunggu bis selanjutnya datang. Entah pada pukul berapa dan menit keberapa.
Mungkin saat ini aku tengah berperan menjadi Olenka Plemyannikova yang tidak dapat memikirkan apapun yang tidak berhubungan dengan orang yang dicintainya dan tak lagi berpendirian. Duduk terkulai dengan bahu yang turun dan tak sengaja mengingat sebuah kutipan dari Novel Anton Cekhov tersebut, "tak pernah jiwanya menyerah pada perasaan apapun sespontan ini.". Lalu bahuku tambah terkulai karena aku menyadari telah terjerat oleh sesuatu yang kasat dan mengikat, dan lagi-lagi terlambat. Kesamaan antara aku dan Olenka adalah bahwa kami adalah wanita yang tidak bisa berpikir secara mandiri.
Lalu aku ingin bernyanyi, dan mendadak memikirkan lirik yang akan kubuat menjadi lagu.
Tentang sebuah perasaan sendu yang tak pernah bersambut dan bertemu dengan penawarnya; kebahagiaan. Bahkan seperti reduksi sebuah kata dengan tanda tanya,
"kebahagiaan?"
Sayang, aku menyerah.
Biarlah kakiku beristirahat dan berhenti melangkah.
Luka dilutut yang berdarah, tak pernah bisa mengalahkan pedihnya rasa bersalah.
Sesuatu yang pergi tak akan pernah sama lagi ketika kembali.
Seperti gulungan film yang kehilangan satu montasenya.
Episode yang melompat, dan jeda panjang yang hampa.
Hanya akan terisi oleh kekosongan belaka.
Hanya ada aku di halte, karena hanya aku satu-satunya orang yang terlambat. Bis tak tentu akan datang lagi kapan. Dan aku pun tak lagi berharap.
Busan, 6 Oktober 2014