Minggu, 22 Mei 2016

batu. Batu. Batu.

Terlalu banyak melewati katak mati dan terinjak bahkan aku pun tidak lebih baik dari mereka karena aku tetap memilih menjadi batu. Tak pernah ada sesuatu pun diam tenang mengisi dalam teko yang menjadi penadah air hujan. Tetap pada sofa merah itu, pada ruang simulakrum itu, mereka hanya singgah sebentar lalu pergi cepat-cepat. Aku sering mengundang tapi juga sering mengusir.
Tak terhitung lagi saat aku bergegas melangkah meninggalkan segala sosok lewat dan basa basi.
Rasa kepercayaan yang kian tidak kudapati, dan anggapan bahwa aku telah memiliki aquarium indah padahal aku sendiri hanya menjadi batu didalamnya. Aku memilih menjadi batu.
Aku menghindari keramaian, menghindari tatapan, dan hanya sesekali keluar dari kamuflase untuk sedikit memanusiakan diriku. Atau bahkan berpura-pura menjadi manusia. Tapi tetap mereka terdengar dengan segala kasak kusuknya. Aku memilih keputusan yang orang bilang hanya opsi yang random. Jauh didalam sini, jauh di ruang itu, aku tetap memilih jadi batu. Biarlah orang memungut lalu kemudian melempar. Aku ga peduli.
Kesialan dalam hidup bukanlah saat manusia tidak mendapatkan keinginannya, melainkan ketika ia berada dititik tidak mempercayai kehidupan tersebut dan memilih jadi batu.
Si batu yang tak mempercayai orang hidup.

Satu kotak coklat Julia

Rain of July

Kita ga pernah saling janji untuk mengabari, tapi
Kita tahu selalu ada tempat dekat hati, dekat jantung, dekat pembuluh yang mengedarkan rindu

Kita ga rutin saling menyapa lewat maya, tapi
Kita selalu bertemu dalam imaji

Dibawah hujan bulan Juli,
Kita selalu saling mengingat
Tentang awan bulan Juli
Tentang angin bulan Juli
Tentang wangi bulan Juli
Tentang angka 4 dan 6

Tahukah kamu,
Betapa aku sulit mengabai rindu
Aku berlari dalam mimpi,
Mengejarmu,
Menjauhimu, tapi
Seakan-akan aku hanya membuat paradoks

Rindu tapi ga juga bertemu?

Ga akan kutagih cerita yang terjeda
Seperti frasa yang tiada arti tanpa spasi.
Aku tahu kita nanti akan kembali mengobral ilusi,
Merenda delusi,
Menertawai kesintingan yang tak pernah basi,
Walaupun tembok ratapan itu entah jadi apa sekarang.
Aku tahu kita akan kembali berhujan dibawah langit Juli.

Kamu adalah musuh untuk kesepianku
Karena kamu selalu mengisi setiap bilik dan relung,
Lalu menjauh... Jauh.. Jauh... Hilang

Jangan lagi hilang
Kamu boleh pergi, tapi jangan lagi hilang..


***







Bogor, 22 Mei 2016
Untuk sahabat yang paling kusayangi walaupun sekian tahun ga pernah berjumpa, lupakah kamu dengan kita?
Miss you Julia!!

Sabtu, 14 Mei 2016

Botchan jadi banyak.

Soseki mengibas, mendengus lalu abai
Menyibak kertas dan menarik nafas satu-satu, dua-dua
Satu-dua satu-dua
Membalurnya dengan hitam tinta tipis-tebal-tipis-tebal
Lalu Botchan meronta dan angin gemas
Dihisap lintah kebodohan yang disadari
dan belatung ketololan yang menggerogoti
Hilang satu persatu sel otak yang paling vital
Ialah Botchan
Tapi ia pada zamannya adalah seseorang yang langka

Kini,
Soseki menjadi abu,
namun Botchan bereinkarnasi,
menjadi user disetiap aplikasi
Disetiap layar datar,
disetiap megapiksel,
disetiap gigabyte,
ia tetap dibodohi dan terbodohi.


***






Mei 14, 2016
*Botchan adalah tokoh pada salah satu novel Natsume Soseki.



Dipecut mimpi dini hari

Aku berkejar
Dan beton tumbuh tanpa ampun, membuat terkalang kabut
Mengapa semua serba terburu-buru, bahkan kopi hitam di atas meja belum habis mengepul panasnya
Ditinggal seseorang yang ditinggal waktu sambil bersepatu
Poros yang kini menagih pada bumi, untuk memutarinya lebih cepat seperti ia mengelilingi matahari
Tidak ada lagi pagi yang benar-benar dinanti
Tidak ada lagi senja yang memanja
Mereka terlonjak lalu bersepatu dalam setengah mata, dan lagi-lagi meninggalkan kopi panas diatas jarum jam yang memburu
Membiarkannya larut dalam pekat tengah malam bahkan dini hari

Pun dengan aku
Belum sempat kutitip pada laju pagi yang terlalu cepat hingga tak kasat
Tentang rasa sayang ini, pada diri sendiri,
pada ibukota yang memecuti mimpi
Aku ingin meminta waktu untuk bersedih dan meratapi, walau hanya dengan detik lampu merah
Memandangnya dalam batas marka jalan raya
Dan bertanya padanya mengapa ia pergi dan berlalu begitu cepat.
Aku pun menangisi kepergian jati diri, sambil berdiri di atas metromini.













April 11, 2010
Karya lama yang diukir kembali.


Kamis, 09 April 2015

Good Friday.

Seperti mengidap galau berkepanjangan disetiap musim.
Berhari-hari mengurung diri sendiri.
Berhari-hari dihinggapi delusi dan halusinasi.
Kehidupan berwarna justru dijumpai dalam mimpi.
Bertemu suzanna berkebaya ungu,
Bertemu nenek yang tak bersedia tidur bersamaku disisinya.
Jangan sekarang, katanya.
Mungkin belum waktunya kami satu dunia.
Aku hanya ingin bertemu orang-orang yang ingin aku temui saja.
7 hari 24 jam hanya 5 orang yang kujumpa.
Aku belum siap bertemu orang pembawa berita buruk,
maka aku masih mengurung diri sendiri di ruang simulakrum.
Ada pekat menggayut tiap niatku melangkah keluar dari pintu.
Bahkan nyaliku kalah dari nyali janin yang merobek ketuban dengan kakinya.
Aku tidak seberani itu untuk saat ini.

Ada yang bilang aku kambuh.
Kambuh dari apa? Aku tak kenapa-kenapa.
Aku hanya sedang berperan jadi vampir.
Takut matahari, dan takut orang-orang yang berbau bawang putih.

Senin, 06 Oktober 2014

Hari Pertama

Hari pertama berada di Phantasmagoria, semuanya menjadi serba kacau. Mungkin Alice lebih menyadari lebih dulu ketika akhirnya ia kembali di Wonderland dan ternyata mimpi sebelumnya bukanlah dejavu. Hingga ia pun bisa keluar dan pulang ke dunia nyatanya.
Aku menyadarinya begitu lama untuk beberapa juta tahun cahaya dan ketika siuman ternyata aku telah kehilangan banyak. Bahwa ternyata aku terjebak pada pusaran portal ke masa lalu dan mendapati orang lain telah melangkah jauh didepan sedangkan aku tetap jalan ditempat. Bukan hanya jalan ditempat, tapi juga terjerembab dengan cidera lutut yang parah. Mungkin masih beruntung karena kakiku masih ada ditempatnya, tapi apa gunanya jika mereka tidak dapat dipakai untuk jangka waktu yang entah kapan dapat dipakai melangkah lagi dengan normal dan bisa berlari? Ketika nanti pun cedera itu sembuh, orang-orang itu telah lama menghilang dibalik tikungan dan naik ke bis yang telah berangkat. Dan aku pun akan sendirian lagi, kembali menyublimkan paha dan pantatku dengan dinginnya besi bangku di halte dan menunggu bis selanjutnya datang. Entah pada pukul berapa dan menit keberapa.
Mungkin saat ini aku tengah berperan menjadi Olenka Plemyannikova yang tidak dapat memikirkan apapun yang tidak berhubungan dengan orang yang dicintainya dan tak lagi berpendirian. Duduk terkulai dengan bahu yang turun dan tak sengaja mengingat sebuah kutipan dari Novel Anton Cekhov tersebut, "tak pernah jiwanya menyerah pada perasaan apapun sespontan ini.". Lalu bahuku tambah terkulai karena aku menyadari telah terjerat oleh sesuatu yang kasat dan mengikat, dan lagi-lagi terlambat. Kesamaan antara aku dan Olenka adalah bahwa kami adalah wanita yang tidak bisa berpikir secara mandiri.
Lalu aku ingin bernyanyi, dan mendadak memikirkan lirik yang akan kubuat menjadi lagu.
Tentang sebuah perasaan sendu yang tak pernah bersambut dan bertemu dengan penawarnya; kebahagiaan. Bahkan seperti reduksi sebuah kata dengan tanda tanya, 
"kebahagiaan?"

Sayang, aku menyerah. 
Biarlah kakiku beristirahat dan berhenti melangkah. 
Luka dilutut yang berdarah, tak pernah bisa mengalahkan pedihnya rasa bersalah.
Sesuatu yang pergi tak akan pernah sama lagi ketika kembali.
Seperti gulungan film yang kehilangan satu montasenya.
Episode yang melompat, dan jeda panjang yang hampa.
Hanya akan terisi oleh kekosongan belaka.

Hanya ada aku di halte, karena hanya aku satu-satunya orang yang terlambat. Bis tak tentu akan datang lagi kapan. Dan aku pun tak lagi berharap.



Busan, 6 Oktober 2014




Kamis, 10 April 2014

Di mulut gerbang.


Selamat datang di dunia Phantasmagoria!
Ini bukan Phantasmagoria-nya Lewis Carrol, tapi mungkin; ya, sangat terinspirasi dari pernyataan Walter Benjamin tentangnya, saat ia tertegun meilhat citraan bayang-bayang dari pantulan kaca yang berbaur dengan kenyataan seperti itu di Paris. Phantasmagoria memanipulasi objektivitas visual dan membuatnya membaur dengan citraan yang didukung penuh oleh kemampuan berfantasi.

Mari sejenak bermain-main dengan delusi, jangan ditolak, ikuti dan nikmati saja. Biasanya delusi datang pada orang yang memiliki paranoid akut, memutus relasi antara kenyataan dan fantasi, menipiskan garis batas diantara keduanya lalu mengacaukan situasi. Sama seperti aku, terlalu takut dengan ketakutan, hingga akhirnya terjerembab makin dalam pada lumpur hisap yang masiv. Makin memberontak maka makin dicengkeram.

Jadi, tidak ada salahnya mencoba ikut bermain dan tetap terjaga agar tidak melarut. Tidak ada ruginya bermain peran menjadi orang lain pada dunia yang mempermainkan pikiran. Yang menghantui mimpi-mimpi yang datang sebelum tidur. Yang bisa membuat berteriak secara tidak sadar dan menyedot habis kadar serotonin pada zat di tubuh.

Satu hal yang perlu diwaspadai saat mulai memasukinya adalah, kamu harus tahu dimana kamu tengah berdiri. 

Saat tahu sudah memulainya, maka harus sudah tahu akan dimana mengakhirinya.

***