Senin, 06 Oktober 2014

Hari Pertama

Hari pertama berada di Phantasmagoria, semuanya menjadi serba kacau. Mungkin Alice lebih menyadari lebih dulu ketika akhirnya ia kembali di Wonderland dan ternyata mimpi sebelumnya bukanlah dejavu. Hingga ia pun bisa keluar dan pulang ke dunia nyatanya.
Aku menyadarinya begitu lama untuk beberapa juta tahun cahaya dan ketika siuman ternyata aku telah kehilangan banyak. Bahwa ternyata aku terjebak pada pusaran portal ke masa lalu dan mendapati orang lain telah melangkah jauh didepan sedangkan aku tetap jalan ditempat. Bukan hanya jalan ditempat, tapi juga terjerembab dengan cidera lutut yang parah. Mungkin masih beruntung karena kakiku masih ada ditempatnya, tapi apa gunanya jika mereka tidak dapat dipakai untuk jangka waktu yang entah kapan dapat dipakai melangkah lagi dengan normal dan bisa berlari? Ketika nanti pun cedera itu sembuh, orang-orang itu telah lama menghilang dibalik tikungan dan naik ke bis yang telah berangkat. Dan aku pun akan sendirian lagi, kembali menyublimkan paha dan pantatku dengan dinginnya besi bangku di halte dan menunggu bis selanjutnya datang. Entah pada pukul berapa dan menit keberapa.
Mungkin saat ini aku tengah berperan menjadi Olenka Plemyannikova yang tidak dapat memikirkan apapun yang tidak berhubungan dengan orang yang dicintainya dan tak lagi berpendirian. Duduk terkulai dengan bahu yang turun dan tak sengaja mengingat sebuah kutipan dari Novel Anton Cekhov tersebut, "tak pernah jiwanya menyerah pada perasaan apapun sespontan ini.". Lalu bahuku tambah terkulai karena aku menyadari telah terjerat oleh sesuatu yang kasat dan mengikat, dan lagi-lagi terlambat. Kesamaan antara aku dan Olenka adalah bahwa kami adalah wanita yang tidak bisa berpikir secara mandiri.
Lalu aku ingin bernyanyi, dan mendadak memikirkan lirik yang akan kubuat menjadi lagu.
Tentang sebuah perasaan sendu yang tak pernah bersambut dan bertemu dengan penawarnya; kebahagiaan. Bahkan seperti reduksi sebuah kata dengan tanda tanya, 
"kebahagiaan?"

Sayang, aku menyerah. 
Biarlah kakiku beristirahat dan berhenti melangkah. 
Luka dilutut yang berdarah, tak pernah bisa mengalahkan pedihnya rasa bersalah.
Sesuatu yang pergi tak akan pernah sama lagi ketika kembali.
Seperti gulungan film yang kehilangan satu montasenya.
Episode yang melompat, dan jeda panjang yang hampa.
Hanya akan terisi oleh kekosongan belaka.

Hanya ada aku di halte, karena hanya aku satu-satunya orang yang terlambat. Bis tak tentu akan datang lagi kapan. Dan aku pun tak lagi berharap.



Busan, 6 Oktober 2014




Kamis, 10 April 2014

Di mulut gerbang.


Selamat datang di dunia Phantasmagoria!
Ini bukan Phantasmagoria-nya Lewis Carrol, tapi mungkin; ya, sangat terinspirasi dari pernyataan Walter Benjamin tentangnya, saat ia tertegun meilhat citraan bayang-bayang dari pantulan kaca yang berbaur dengan kenyataan seperti itu di Paris. Phantasmagoria memanipulasi objektivitas visual dan membuatnya membaur dengan citraan yang didukung penuh oleh kemampuan berfantasi.

Mari sejenak bermain-main dengan delusi, jangan ditolak, ikuti dan nikmati saja. Biasanya delusi datang pada orang yang memiliki paranoid akut, memutus relasi antara kenyataan dan fantasi, menipiskan garis batas diantara keduanya lalu mengacaukan situasi. Sama seperti aku, terlalu takut dengan ketakutan, hingga akhirnya terjerembab makin dalam pada lumpur hisap yang masiv. Makin memberontak maka makin dicengkeram.

Jadi, tidak ada salahnya mencoba ikut bermain dan tetap terjaga agar tidak melarut. Tidak ada ruginya bermain peran menjadi orang lain pada dunia yang mempermainkan pikiran. Yang menghantui mimpi-mimpi yang datang sebelum tidur. Yang bisa membuat berteriak secara tidak sadar dan menyedot habis kadar serotonin pada zat di tubuh.

Satu hal yang perlu diwaspadai saat mulai memasukinya adalah, kamu harus tahu dimana kamu tengah berdiri. 

Saat tahu sudah memulainya, maka harus sudah tahu akan dimana mengakhirinya.

***