Sabtu, 14 Mei 2016

Dipecut mimpi dini hari

Aku berkejar
Dan beton tumbuh tanpa ampun, membuat terkalang kabut
Mengapa semua serba terburu-buru, bahkan kopi hitam di atas meja belum habis mengepul panasnya
Ditinggal seseorang yang ditinggal waktu sambil bersepatu
Poros yang kini menagih pada bumi, untuk memutarinya lebih cepat seperti ia mengelilingi matahari
Tidak ada lagi pagi yang benar-benar dinanti
Tidak ada lagi senja yang memanja
Mereka terlonjak lalu bersepatu dalam setengah mata, dan lagi-lagi meninggalkan kopi panas diatas jarum jam yang memburu
Membiarkannya larut dalam pekat tengah malam bahkan dini hari

Pun dengan aku
Belum sempat kutitip pada laju pagi yang terlalu cepat hingga tak kasat
Tentang rasa sayang ini, pada diri sendiri,
pada ibukota yang memecuti mimpi
Aku ingin meminta waktu untuk bersedih dan meratapi, walau hanya dengan detik lampu merah
Memandangnya dalam batas marka jalan raya
Dan bertanya padanya mengapa ia pergi dan berlalu begitu cepat.
Aku pun menangisi kepergian jati diri, sambil berdiri di atas metromini.













April 11, 2010
Karya lama yang diukir kembali.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar